Indeks Berita
Kumpulan berita, informasi, dan pengumuman terbaru.
Fakultas Tarbiyah IAIN Curup Perkuat Kompetensi Dosen melalui Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran
CURUP — Fakultas Tarbiyah IAIN Curup kembali memperkuat komitmennya dalam mendorong transformasi pembelajaran di perguruan tinggi melalui Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran yang dilaksanakan pada Selasa, 29 September 2026, bertempat di Aula Harun Arrasyid, UPT Perpustakaan IAIN Curup. Kegiatan ini mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di Era Artificial Intelligence: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam, Berintegritas, dan Berorientasi pada Penguatan Berpikir Kritis.” Memasuki sesi Materi I, para dosen peserta pelatihan tampak antusias mengikuti pemaparan yang secara khusus mengajak peserta memahami perubahan paradigma pembelajaran di tengah perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI).Sesi pertama menghadirkan Dr. Muzanif, M.Pd., dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Bengkulu, yang menyampaikan materi bertajuk “Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Perguruan Tinggi: Dari Transfer Pengetahuan Menuju Pembelajaran Bermakna.” Materi tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian pelatihan karena menempatkan konsep deep learning bukan sekadar sebagai istilah yang berkaitan dengan teknologi kecerdasan buatan, tetapi juga sebagai pendekatan untuk mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna bagi mahasiswa.Dalam pemaparannya, Dr. Muzanif mengarahkan peserta untuk melihat kembali hakikat pembelajaran di perguruan tinggi. Proses pembelajaran tidak cukup hanya berorientasi pada bagaimana dosen menyampaikan informasi dan mahasiswa menerima pengetahuan. Lebih jauh, pembelajaran perlu memberikan ruang kepada mahasiswa untuk memahami, menghubungkan, mengolah, dan menggunakan pengetahuan dalam menghadapi persoalan yang relevan dengan bidang keilmuan maupun kehidupan nyata. Dengan perspektif tersebut, dosen memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang mendorong mahasiswa tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga memahami alasan, konteks, dan penerapannya.Suasana pemaparan Materi I berlangsung interaktif. Para peserta yang terdiri atas dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Curup mengikuti materi dengan serius sembari mencatat berbagai poin penting yang disampaikan narasumber. Kehadiran perangkat digital seperti laptop juga terlihat mewarnai proses pelatihan. Hal ini mencerminkan bahwa pembahasan mengenai transformasi pembelajaran berlangsung dalam suasana yang dekat dengan praktik pembelajaran digital yang saat ini semakin berkembang di lingkungan perguruan tinggi.Pembahasan kemudian diarahkan pada bagaimana dosen dapat menggeser orientasi pembelajaran dari transfer pengetahuan menuju pembelajaran bermakna. Dalam konteks ini, pembelajaran perlu dirancang agar mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi gagasan, menghubungkan berbagai konsep, mendiskusikan persoalan, serta menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam. Peran dosen bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang merancang lingkungan belajar sehingga mahasiswa terdorong untuk aktif membangun pemahamannya.Materi yang disampaikan juga memberikan ruang refleksi bagi para peserta mengenai praktik pembelajaran yang selama ini dilaksanakan di kelas. Pemanfaatan teknologi, termasuk Artificial Intelligence, dipandang perlu ditempatkan dalam kerangka tujuan pembelajaran. Artinya, teknologi bukan menjadi tujuan akhir, melainkan sarana yang dapat digunakan untuk membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih kaya. Dalam konteks ini, dosen perlu mempertimbangkan bagaimana teknologi dapat mendukung proses berpikir mahasiswa, memperluas sumber belajar, serta membuka peluang pembelajaran yang lebih kontekstual dan relevan.Antusiasme peserta semakin terlihat ketika sesi pemaparan berkembang pada pembahasan mengenai tantangan dosen dalam menciptakan pembelajaran yang mampu membangun pemahaman secara lebih mendalam. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk mengikuti penjelasan, berdiskusi, serta mengaitkan gagasan yang disampaikan dengan kebutuhan pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi. Interaksi tersebut menjadikan sesi Materi I tidak hanya berlangsung sebagai penyampaian informasi satu arah, tetapi menjadi ruang penguatan wawasan dan refleksi akademik bagi para dosen.Melalui Materi I tersebut, Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran diharapkan mampu memberikan perspektif baru bagi dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Curup dalam merancang pembelajaran yang lebih bermakna. Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence diharapkan dapat berjalan seiring dengan penguatan peran dosen dalam membimbing proses berpikir mahasiswa. Dengan demikian, transformasi pembelajaran di era AI tidak hanya menghasilkan pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga tetap berorientasi pada kedalaman pemahaman, pengalaman belajar yang bermakna, serta penguatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.شَمْسُ الرِّجَالِ الْمُحَمَّدِي
Dosen TBIN IAIN Curup Siap Hadapi Era AI, Perkuat Kompetensi Deep Learning dalam Pembelajaran
TBIN, IAINCurup_ Dosen homebase Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Fakultas Tarbiyah IAIN Curup mengikuti Pelatihan Deep Learning dan Artificial Intelligence (AI) dalam Pembelajaran yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah di Aula Harun Arrasyid, UPT Perpustakaan IAIN Curup, Selasa (29/9/2026).Dosen homebase Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) yakni Prof. Dr. Ifnaldi, M.Pd., Dr. Ummul Khair, M.Pd., Dr. Maria Botifar, Dr. Agita Misriani, M.Pd., dan Zelvi Iskandar, M.Pd. mengikuti kegiatan bersama sekitar 100 dosen homebase Fakultas Tarbiyah.Mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di Era Artificial Intelligence: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam, Berintegritas, dan Berorientasi pada Penguatan Berpikir Kritis,” pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas dosen dalam menghadapi perkembangan AI sekaligus mendorong penerapan pembelajaran yang mendalam, bermakna, berintegritas, dan berorientasi pada penguatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Dr. Bakti Komalasari, S.Ag., M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapan dosen menghadapi transformasi digital. “Dosen perlu terus meningkatkan kompetensi agar mampu memanfaatkan teknologi secara tepat dan berintegritas, dengan tetap menempatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa sebagai bagian penting dari pembelajaran,” ujar Bakti.Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I IAIN Curup, Dr. Eka Apriyani, M.Pd., yang mewakili Rektor IAIN Curup. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi perlu diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia di perguruan tinggi.“Pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, memperkuat daya pikir mahasiswa, dan tetap menjaga integritas akademik,” kata Eka.Pelatihan menghadirkan sejumlah narasumber dengan materi yang berfokus pada pembelajaran mendalam dan pemanfaatan AI. Dr. Muzanif, M.Pd. dari BPMP Provinsi Bengkulu menyampaikan materi “Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Perguruan Tinggi: Dari Transfer Pengetahuan Menuju Pembelajaran Bermakna.”Sementara itu, Dr. Eko Risdianto, M.Pd., dosen Universitas Bengkulu, membahas “Merancang Pembelajaran Mendalam Berbasis AI dan OBE agar Mahasiswa Berpikir Kritis dan Logis.” Materi tersebut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pemanfaatan AI sebagai perangkat pendukung pembelajaran yang tetap berorientasi pada capaian pembelajaran.Wakil Dekan II Fakultas Tarbiyah sekaligus Ketua Panitia, Dr. Dina Hajja Ristianti, S.Pd., M.Pd.Kons., menyampaikan bahwa kegiatan diikuti sekitar 100 dosen homebase Fakultas Tarbiyah sebagai bagian dari penguatan kapasitas tenaga pendidik.Keikutsertaan lima dosen TBIN menjadi bagian dari upaya program studi meningkatkan kompetensi dosen dalam mengembangkan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus tetap mengedepankan berpikir kritis, kreativitas, dan integritas akademik.Melalui pelatihan ini, Fakultas Tarbiyah dan Program Studi TBIN mendorong pemanfaatan AI secara bertanggung jawab untuk mendukung pembelajaran yang bermakna dan menjawab tuntutan pendidikan tinggi di era digital.
Prodi PGMI IAIN Curup Dorong Dosen Adaptif di Era AI melalui Pelatihan Deep Learning
CURUP — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah IAIN Curup turut mengambil bagian dalam penguatan kompetensi dosen melalui Pelatihan Deep Learning dan Artificial Intelligence (AI) dalam Pembelajaran yang digelar Fakultas Tarbiyah, Selasa (29/9/2026), di Aula Harun Arrasyid, UPT Perpustakaan IAIN Curup.Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di Era Artificial Intelligence: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam, Berintegritas, dan Berorientasi pada Penguatan Berpikir Kritis” tersebut diikuti sekitar 100 dosen yang berhomebase di lingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN Curup.Pelatihan ini menjadi bagian dari respons Fakultas Tarbiyah terhadap perkembangan teknologi kecerdasan artifisial yang semakin memengaruhi berbagai aspek pendidikan tinggi. Dosen tidak hanya dituntut mampu memahami perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kecakapan untuk menggunakannya secara tepat dalam mendukung proses pembelajaran.Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Dr. Bakti Komalasari, S.Ag., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa perkembangan AI perlu disikapi secara terbuka sekaligus kritis. Menurutnya, teknologi merupakan instrumen pendukung pembelajaran, sedangkan peran dosen tetap penting dalam mengarahkan proses pendidikan, membangun karakter, serta memastikan mahasiswa memiliki kemampuan berpikir dan bernalar secara mandiri.Kegiatan tersebut kemudian dibuka oleh Wakil Rektor I IAIN Curup, Dr. Eka Apriyani, M.Pd., yang hadir mewakili Rektor IAIN Curup. Ia menyampaikan bahwa transformasi digital di perguruan tinggi perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.Pemanfaatan AI, lanjutnya, dapat memberikan berbagai kemudahan dalam pengembangan bahan ajar, pengelolaan informasi, penyusunan aktivitas pembelajaran, hingga pengembangan pengalaman belajar mahasiswa. Namun demikian, penggunaan teknologi tersebut tetap harus berada dalam koridor etika dan integritas akademik.“AI dapat menjadi bagian dari inovasi pembelajaran, tetapi penggunaannya harus tetap diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dosen perlu memahami teknologi sekaligus mampu mengajarkan mahasiswa untuk menggunakannya secara kritis dan bertanggung jawab,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Wakil Dekan II Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Dr. Dina Hajja Ristianti, S.Pd., M.Pd., Kons., menjelaskan bahwa pelatihan dirancang agar dosen memperoleh pemahaman konseptual sekaligus gambaran praktis mengenai penerapan Deep Learning dan AI dalam pembelajaran.Tiga materi utama diberikan kepada peserta. Materi pertama bertajuk “Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Perguruan Tinggi: Dari Transfer Pengetahuan Menuju Pembelajaran Bermakna”, disampaikan oleh Dr. Muzanif, M.Pd. dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Bengkulu.Materi kedua, “Etika, Integritas Akademik, dan Batasan Penggunaan Artificial Intelligence bagi Dosen di Perguruan Tinggi”, disampaikan oleh Dr. Qolbi Khoiri, M.Pd.I., Dosen UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Materi ini menyoroti pentingnya penggunaan AI yang tetap memperhatikan etika, orisinalitas, serta prinsip integritas akademik.Adapun materi ketiga disampaikan oleh Dr. Eko Risdianto, M.Pd., Dosen Universitas Bengkulu (UNIB) dengan tema “Merancang Pembelajaran Mendalam Berbasis AI dan OBE agar Mahasiswa Berpikir Kritis dan Logis.” Materi ini memberikan perspektif aplikatif mengenai pemanfaatan AI dalam pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE).Ketua Program Studi PGMI Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Agus Riyan Oktori, M.Pd.I., menyambut positif pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, perkembangan AI menjadi momentum bagi program studi untuk terus menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan pendidikan masa kini tanpa kehilangan nilai-nilai pedagogis.Ia menilai bahwa bagi Prodi PGMI, isu tersebut menjadi semakin relevan karena calon guru madrasah ibtidaiyah perlu dipersiapkan tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memahami bagaimana teknologi digunakan secara proporsional dalam proses pendidikan.“Bagi Prodi PGMI, perkembangan AI perlu kita respons sebagai bagian dari perubahan ekosistem pendidikan. Teknologi ini dapat membantu dosen dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual, tetapi tetap harus menempatkan kemampuan berpikir kritis, karakter, dan integritas akademik sebagai bagian penting dari proses pendidikan,” ujar Agus Riyan Oktori.Ia menambahkan bahwa kemampuan menggunakan AI secara tepat juga perlu diimbangi dengan kemampuan melakukan verifikasi dan evaluasi terhadap informasi yang dihasilkan teknologi tersebut.“Mahasiswa calon guru harus dibiasakan tidak sekadar menerima informasi yang dihasilkan AI. Mereka perlu belajar memeriksa sumber, menganalisis informasi, membandingkan berbagai perspektif, kemudian menyusun pemikiran sendiri. Dengan cara itu, AI menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir,” lanjutnya.Menurut Agus, pembelajaran mendalam juga memiliki relevansi kuat dengan pendidikan calon guru MI karena mahasiswa PGMI nantinya akan berhadapan dengan peserta didik pada tahap pendidikan dasar. Karena itu, pengalaman belajar di perguruan tinggi perlu memberikan bekal pedagogis dan kemampuan berpikir yang dapat diterapkan ketika mereka memasuki dunia pendidikan.Pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan peningkatan wawasan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui pengembangan perangkat pembelajaran, inovasi metode mengajar, serta pemanfaatan teknologi secara lebih terarah di lingkungan Fakultas Tarbiyah, termasuk Prodi PGMI.Dengan adanya kegiatan ini, Fakultas Tarbiyah IAIN Curup terus mendorong terciptanya budaya akademik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Di sisi lain, penggunaan AI tetap diarahkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, menjaga integritas akademik, dan membangun kemampuan mahasiswa agar mampu berpikir kritis, logis, kreatif, serta bertanggung jawab.Bagi Prodi PGMI, transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang mampu menghadapi perubahan zaman sekaligus tetap memiliki fondasi pedagogis, akademik, dan nilai-nilai pendidikan yang kuat.
Fakultas Tarbiyah IAIN Curup Dorong Transformasi Pembelajaran di Era AI melalui Pelatihan Deep Learning dan Artificial Intelligence
CURUP — Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup menyelenggarakan Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran pada Selasa, 29 September 2026, bertempat di Aula Harun Arrasyid, UPT Perpustakaan IAIN Curup. Kegiatan mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di Era Artificial Intelligence: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam, Berintegritas, dan Berorientasi pada Penguatan Berpikir Kritis.” Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya Fakultas Tarbiyah dalam memperkuat kapasitas dosen menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan artifisial yang semakin berpengaruh terhadap dunia pendidikan tinggi.Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Dr. Bakti Komalasari, S.Ag., M.Pd. Dalam sambutannya, Dekan menekankan pentingnya kesiapan dosen dalam merespons perubahan paradigma pembelajaran di tengah perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI). Kehadiran AI, menurutnya, perlu ditempatkan sebagai teknologi yang mendukung proses akademik dan pembelajaran, bukan menggantikan peran strategis dosen dalam membangun karakter, membimbing proses berpikir, serta mengembangkan kemampuan mahasiswa secara utuh.Selanjutnya, kegiatan dibuka secara langsung oleh Rektor IAIN Curup yang diwakili oleh Wakil Rektor I IAIN Curup, Dr. Eka Apriyani, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa perkembangan Artificial Intelligence telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan tinggi. Karena itu, dosen perlu memiliki pemahaman yang memadai agar mampu memanfaatkan AI secara produktif, kritis, etis, dan bertanggung jawab. Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teknologi, tetapi mampu mendorong lahirnya inovasi pembelajaran yang tetap menempatkan nilai akademik, integritas, dan kemampuan berpikir kritis sebagai landasan utama.Lebih lanjut, Wakil Rektor I menyampaikan bahwa transformasi pembelajaran di era Artificial Intelligence membutuhkan kesiapan sumber daya manusia sekaligus perubahan cara pandang terhadap proses belajar. Teknologi dapat membantu dosen dalam merancang pembelajaran, mengembangkan sumber belajar, mengolah informasi, dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih variatif. Namun, pemanfaatannya harus tetap diarahkan untuk memperkuat tujuan pendidikan dan capaian pembelajaran. Dengan demikian, AI diharapkan menjadi instrumen yang memperkaya proses pendidikan, sementara dosen tetap menjadi pengarah utama dalam membangun pembelajaran yang bermakna.Wakil Dekan II Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Dr. Dina Hajja Ristianti, S.Pd., M.Pd., Kons., yang sekaligus bertindak sebagai Ketua Panitia, menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan diikuti oleh 100 orang dosen yang berhomebase di Fakultas Tarbiyah IAIN Curup. Menurutnya, jumlah peserta tersebut menunjukkan antusiasme dosen dalam meningkatkan kompetensi dan memperbarui wawasan terkait perkembangan Deep Learning dan Artificial Intelligence dalam pembelajaran.“Melalui pelatihan ini, kami berharap para dosen tidak hanya memahami konsep Deep Learning dan Artificial Intelligence, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara tepat dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi pembelajaran. Yang tidak kalah penting, pemanfaatan AI harus tetap memperhatikan etika, integritas akademik, serta mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan logis,” ujar Dr. Dina Hajja Ristianti dalam keterangannya.Pelatihan menghadirkan tiga narasumber yang memiliki kepakaran dan pengalaman pada bidang masing-masing. Pada Materi I, peserta mendapatkan materi “Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Perguruan Tinggi: Dari Transfer Pengetahuan Menuju Pembelajaran Bermakna” yang disampaikan oleh Dr. Muzanif, M.Pd. dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Bengkulu. Materi ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman dosen mengenai pembelajaran mendalam serta bagaimana proses pembelajaran dapat dikembangkan dari sekadar transfer pengetahuan menuju pengalaman belajar yang lebih bermakna.Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Qolbi Khoiri, M.Pd.I., Dosen UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, dengan topik “Etika, Integritas Akademik, dan Batasan Penggunaan Artificial Intelligence bagi Dosen di Perguruan Tinggi.” Materi ini memberikan ruang bagi peserta untuk memahami berbagai aspek etis dalam penggunaan AI di lingkungan akademik, termasuk pentingnya menjaga integritas akademik serta memahami batasan pemanfaatan teknologi agar penggunaannya tetap bertanggung jawab dan sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan tinggi.Sementara itu, Dr. Eko Risdianto, M.Pd., Dosen Universitas Bengkulu (UNIB), memberikan Materi III dengan topik “Merancang Pembelajaran Mendalam Berbasis AI dan OBE agar Mahasiswa Berpikir Kritis dan Logis.” Materi tersebut mengarahkan peserta pada aspek yang lebih aplikatif, khususnya bagaimana AI dapat diintegrasikan dalam perancangan pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE) dengan tetap berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan logis mahasiswa.Melalui rangkaian materi tersebut, Fakultas Tarbiyah IAIN Curup berharap pelatihan dapat menjadi ruang penguatan kompetensi profesional dosen sekaligus mendorong lahirnya inovasi pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi. Pemanfaatan Deep Learning dan Artificial Intelligence diharapkan mampu memperkaya strategi pembelajaran tanpa menghilangkan dimensi kemanusiaan, nilai-nilai akademik, integritas, dan tanggung jawab pendidikan. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah Fakultas Tarbiyah IAIN Curup dalam mempersiapkan dosen menghadapi transformasi pendidikan di era teknologi, sehingga pembelajaran dapat semakin bermakna, adaptif, berintegritas, dan berorientasi pada penguatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.شَمْسُ الرِّجَالِ الْمُحَمَّدِي
Kemdiktisaintek–DPR RI Komisi X Gelar Workshop Bina Talenta 2026, Dosen dan Tenaga Kependidikan Prodi Tadris Matematika Turut Berpartisipasi
Rejang Lebong, 27 September 2026 — Dosen dan Tendik Program Studi Tadris Matematika (TMM) turut berpartisipasi dalam Workshop Bina Talenta Tahun 2026 yang diselenggarakan melalui kolaborasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan DPR RI Komisi X. Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Dosen dan Tenaga Kependidikan Profesional dan Berdaya Saing dalam Mendukung Transformasi Diktisaintek Berdampak” tersebut dilaksanakan di Politeknik Rafflesia, Sabtu (26/9/2026).Keikutsertaan dosen dan tendik Prodi Tadris Matematika dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan kapasitas dan kompetensi dosen dalam menghadapi perkembangan pendidikan tinggi yang semakin dinamis. Melalui workshop, peserta memperoleh wawasan mengenai profesionalisme, pengembangan kompetensi, budaya akademik, inovasi, serta pentingnya adaptasi terhadap transformasi pendidikan tinggi.Kegiatan dibuka oleh Anggota DPR RI Komisi X, Dr. Dewi Coryati, M.Si. Dalam sambutannya, Dewi menekankan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan tinggi sangat berkaitan dengan kesiapan sumber daya manusia yang menjalankannya.“Transformasi pendidikan tinggi tidak akan berjalan tanpa SDM yang siap berubah. Karena itu, dosen dan tenaga kependidikan harus terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memberikan kontribusi nyata bagi institusi dan masyarakat,” ujar Dewi.Menurutnya, dosen dan tenaga kependidikan memiliki posisi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar sumber daya manusia perguruan tinggi mampu mengikuti perkembangan zaman sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.Workshop menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Upi Niarti, M.Ak., Prof. Sudarwan Danim, dan Dr. Agus Sunaria Sulaeman, yang memberikan materi dan perspektif mengenai penguatan profesionalisme serta kesiapan SDM dalam menghadapi transformasi pendidikan tinggi.Dr. Upi Niarti, M.Ak. menekankan bahwa profesionalisme harus dibangun melalui kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.“Menjadi profesional itu bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan. Kita harus punya komitmen untuk terus belajar, memperbaiki kualitas kerja, dan memberikan kontribusi yang benar-benar dirasakan oleh institusi,” ungkap Upi.Bagi dosen Prodi Tadris Matematika, penguatan profesionalisme tersebut menjadi penting dalam mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.Selanjutnya, Prof. Sudarwan Danim mengingatkan pentingnya membangun budaya belajar di lingkungan perguruan tinggi. Perubahan yang berlangsung dalam dunia pendidikan menuntut dosen dan tenaga kependidikan untuk terus mengembangkan diri.“Jangan sampai kita merasa cukup dengan apa yang sudah kita miliki. Tantangan pendidikan terus berubah, sehingga kita juga harus terus belajar, berpikir terbuka, dan berani melakukan pembaruan,” tutur Sudarwan.Pesan tersebut menjadi relevan bagi Prodi Tadris Matematika yang terus berupaya mengembangkan kompetensi dosen dan meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan kompetensi dosen diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas mahasiswa sebagai calon pendidik matematika.Sementara itu, Dr. Agus Sunaria Sulaeman menyoroti pentingnya memastikan bahwa transformasi pendidikan tinggi menghasilkan inovasi dan dampak nyata.“Transformasi itu bukan sekadar mengikuti perubahan teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana perubahan tersebut kita manfaatkan untuk menghasilkan inovasi dan memberikan dampak yang nyata bagi mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat,” jelas Agus.Bagi Prodi Tadris Matematika, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan inovasi pembelajaran matematika, pemanfaatan teknologi dalam proses pendidikan, penguatan penelitian, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat.Workshop Bina Talenta 2026 juga menjadi ruang bagi dosen untuk memperluas wawasan dan membangun jejaring dengan berbagai pihak. Kolaborasi antara pemerintah, DPR RI, dan perguruan tinggi diharapkan dapat terus diperkuat dalam rangka menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang mendukung pengembangan talenta dan sumber daya manusia berkualitas.
Kuliah Umum TBIN IAIN Curup: Mengubah Bahasa Menjadi Seni dan Komunikasi Menjadi Kekuatan
TBIN IAIN Curup_ Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Fakultas Tarbiyah IAIN Curup bersama Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) TBIN menggelar kuliah umum bertema “Bahasa sebagai Suara, Bicara sebagai Seni: Membangun Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi” secara virtual melalui Google Meet, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut diikuti mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia. Kuliah umum menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Rudi Nofindra, M.T.Pd. dari Yayasan SVARA Bumei Betuah dan Dr. Nafri Yanti, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bengkulu. Kegiatan diawali sambutan Ketua Program Studi TBIN Dr. Agita Misriani, M.Pd. dan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Dr. Bakti Komalasari, S.Ag., M.Pd.Dalam sambutannya, Dr. Agita Misriani menekankan pentingnya kemampuan berkomunikasi bagi mahasiswa TBIN. Menurutnya, penguasaan bahasa tidak cukup berhenti pada pemahaman teori, tetapi perlu diwujudkan dalam kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas, percaya diri, dan sesuai dengan konteks. “Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia perlu memiliki kemampuan berbahasa sekaligus keberanian untuk menyampaikan gagasan. Kemampuan berbicara dan berkomunikasi menjadi bekal penting, baik dalam proses akademik maupun ketika mahasiswa terjun ke tengah masyarakat,” ujar Agita.Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Dr. Bakti Komalasari, S.Ag., M.Pd., dalam pembukaan kegiatan memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kuliah umum yang dinilai relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Ia juga menekankan bahwa kegiatan akademik dan kemahasiswaan yang dilaksanakan secara terencana, terdokumentasi, dan memiliki keterkaitan dengan capaian pembelajaran dapat mendukung proses peningkatan mutu serta pemenuhan bukti kinerja program studi dalam Instrumen Akreditasi Program Studi 3.0. “Mahasiswa perlu mendapatkan ruang untuk memperluas wawasan dan mengembangkan kompetensi di luar pembelajaran rutin di kelas. Kegiatan seperti ini menjadi bagian dari penguatan budaya akademik dan harus memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa,” ujar Bakti.Narasumber pertama, Dr. Rudi Nofindra, M.T.Pd., membahas tema utama kegiatan mengenai bahasa sebagai suara dan berbicara sebagai seni. Ia mengajak mahasiswa melihat kemampuan komunikasi sebagai kompetensi yang harus terus dilatih. Menurut Rudi, kemampuan berbicara tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kosakata yang dikuasai, tetapi juga oleh kemampuan mengolah pesan, memahami lawan bicara, mengatur penyampaian, serta membangun kepercayaan diri. Ia mendorong mahasiswa TBIN untuk tidak ragu tampil dalam berbagai forum. Kemampuan berbicara, menurutnya, dapat menjadi modal penting bagi mahasiswa ketika memasuki dunia pendidikan, organisasi, masyarakat, maupun dunia profesional.Sementara itu, Dr. Nafri Yanti, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bengkulu, mengangkat pembahasan mengenai komunikasi sebagai salah satu faktor penting dalam keberhasilan seseorang. Ia menjelaskan bahwa kemampuan berkomunikasi memiliki keterkaitan erat dengan kemampuan seseorang membangun relasi, menyampaikan ide, bekerja sama, dan menyelesaikan berbagai persoalan. Nafri juga memperluas perspektif mahasiswa mengenai peluang pengembangan ilmu bahasa. Menurutnya, kompetensi bahasa tidak hanya dibutuhkan dalam dunia pendidikan formal, tetapi juga memiliki ruang penerapan yang luas di sektor nonformal dan berbagai bidang profesional.Pelaksanaan kuliah umum juga menjadi bagian dari pengembangan kegiatan akademik Prodi TBIN yang berorientasi pada peningkatan kompetensi mahasiswa. Kegiatan yang menghadirkan narasumber dari unsur praktisi dan akademisi tersebut memberikan tambahan wawasan sekaligus memperluas jejaring akademik program studi. Dalam konteks Instrumen Akreditasi Program Studi 3.0, kegiatan akademik yang terencana dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa menjadi bagian dari upaya program studi dalam mendukung pencapaian kompetensi lulusan, pengembangan budaya akademik, serta dokumentasi pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan interaksi bersama narasumber. Bagi Prodi TBIN, forum tersebut menjadi salah satu langkah untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual sekaligus memperkuat hubungan antara kompetensi kebahasaan, kebutuhan masyarakat, dan tuntutan dunia profesional.