Menu

Indeks Berita

Kumpulan berita, informasi, dan pengumuman terbaru.

Hari Kedua Materi III Pelatihan Deep Learning dan AI, Dosen TMM Dalami Perancangan Pembelajaran Berbasis AI dan OBE
Berita Tadris Matematika 30 Sep 2026

Hari Kedua Materi III Pelatihan Deep Learning dan AI, Dosen TMM Dalami Perancangan Pembelajaran Berbasis AI dan OBE

Curup, 30 September 2026 — Rangkaian Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran Fakultas Tarbiyah IAIN Curup Tahun 2026 memasuki hari kedua dengan pelaksanaan Materi III pada Rabu, 30 September 2026, pukul 08.00 WIB. Kegiatan yang berlangsung di Aula Harun Arrasyid, UPT Perpustakaan IAIN Curup ini kembali diikuti oleh dosen, termasuk dosen Program Studi Tadris Matematika (TMM) Fakultas Tarbiyah IAIN Curup.Mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di Era Artificial Intelligence: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam, Berintegritas, dan Berorientasi pada Penguatan Berpikir Kritis,” sesi ketiga menjadi bagian penting dalam rangkaian pelatihan karena peserta tidak hanya diperkenalkan pada perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI), tetapi juga diarahkan untuk memahami bagaimana teknologi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam perancangan pembelajaran di perguruan tinggi.Pada Materi III, peserta mendapatkan pemaparan dari Dr. Eko Risdianto, M.Pd., Dosen Universitas Bengkulu (UNIB), dengan topik “Merancang Pembelajaran Mendalam Berbasis AI dan OBE agar Mahasiswa Berpikir Kritis dan Logis.”Dalam sesi ini, pembahasan difokuskan pada keterkaitan antara pemanfaatan Artificial Intelligence, pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), dan Outcome-Based Education (OBE). Ketiga aspek tersebut ditempatkan dalam kerangka perancangan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada pencapaian kompetensi mahasiswa sesuai dengan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.Pendekatan OBE menempatkan capaian pembelajaran sebagai salah satu dasar utama dalam merancang proses pembelajaran. Dalam konteks perkembangan AI, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung untuk menciptakan aktivitas pembelajaran yang lebih variatif dan mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta logis.Sementara itu, konsep pembelajaran mendalam mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada kemampuan memahami informasi, tetapi mampu menghubungkan pengetahuan, menganalisis persoalan, serta menggunakan konsep yang dipelajari untuk menyelesaikan berbagai permasalahan secara bermakna.Materi yang disampaikan juga memberikan perspektif bagi dosen dalam merancang pembelajaran yang tetap menempatkan mahasiswa sebagai pusat proses belajar. AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung eksplorasi, pemecahan masalah, penyusunan aktivitas pembelajaran, maupun pengembangan berbagai sumber belajar, dengan tetap memperhatikan capaian pembelajaran dan penguatan kemampuan berpikir mahasiswa.Penyampaian Materi III berlangsung menarik dan interaktif. Dr. Eko tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga membuka ruang dialog dengan para dosen peserta. Sejumlah peserta terlihat mengikuti pembahasan dengan serius, mencatat poin-poin penting, serta merespons berbagai pertanyaan dan ilustrasi yang diberikan selama sesi berlangsung. Interaksi tersebut membuat suasana pelatihan menjadi lebih hidup karena pembahasan tidak berhenti pada konsep, tetapi berkembang ke berbagai kemungkinan penerapannya dalam kegiatan pembelajaran di program studi masing-masing.Suasana semakin hangat ketika peserta dan pemateri terlibat dalam diskusi mengenai tantangan yang dihadapi dosen dalam mengintegrasikan teknologi AI ke dalam pembelajaran. Berbagai perspektif yang muncul menunjukkan bahwa penerapan AI membutuhkan perencanaan yang matang, terutama agar teknologi dapat memperkuat proses pembelajaran tanpa mengurangi ruang bagi mahasiswa untuk berpikir secara mandiri. Dialog antara pemateri dan peserta juga memberikan kesempatan bagi dosen untuk menghubungkan materi yang disampaikan dengan pengalaman mereka dalam melaksanakan pembelajaran di perguruan tinggi.

Prodi PGMI IAIN Curup Berkontribusi dalam OCERI Batch 4 2026, Ketua Prodi Turut Terlibat sebagai Panitia Pelaksana
Akademik Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 30 Sep 2026

Prodi PGMI IAIN Curup Berkontribusi dalam OCERI Batch 4 2026, Ketua Prodi Turut Terlibat sebagai Panitia Pelaksana

Bengkulu — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah IAIN Curup kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan wawasan akademik mahasiswa melalui keterlibatan dalam Online Conference of Educational Research International (OCERI) Batch 4 Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Doktor Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bengkulu.Konferensi internasional yang mengusung tema “Fostering Super Smart People for the SDGs: The Symbiosis of AI, Deep Learning, and Machine Learning in Educational Transformation” tersebut menjadi forum akademik untuk mempertemukan peneliti, pendidik, mahasiswa, praktisi, dan pemangku kebijakan dalam bertukar gagasan mengenai perkembangan dan transformasi pendidikan di era teknologi.Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat–Sabtu, 25–26 September 2026. Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah IAIN Curup turut mengambil bagian dengan mengikutsertakan sembilan mahasiswa dalam kegiatan konferensi internasional tersebut.Sembilan mahasiswa PGMI yang mengikuti kegiatan tersebut berasal dari beberapa kelas, yaitu Dela Kontesa (3J), Keisyah Febrianti (3G), Salsabila Putri Aldina (3H), Shonia Rhosha Shaputri (3H), Natasya Al Safahani (3E), Dimas Nur Abdul Kholiq (3H), Leksa Meilianti (5B), Veny Tri Cahyani (5F), dan Mifta Hurrahma (5B).Keikutsertaan mahasiswa tersebut merupakan bagian dari upaya Prodi PGMI dalam memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik di luar lingkungan perkuliahan. Sebelumnya, Prodi PGMI juga telah menyampaikan permohonan izin kepada dosen agar mahasiswa yang bersangkutan dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan tetap memperhatikan ketentuan perkuliahan yang berlaku.Partisipasi tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai isu-isu pendidikan kontemporer, khususnya perkembangan teknologi pendidikan, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), deep learning, machine learning, pembelajaran adaptif dan personal, serta pendidikan yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).Keterlibatan Prodi PGMI dalam OCERI Batch 4 2026 tidak hanya ditunjukkan melalui partisipasi mahasiswa. Ketua Program Studi PGMI Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Agus Riyan Oktori, M.Pd.I., juga turut terlibat sebagai salah satu panitia pelaksana kegiatan konferensi tersebut.Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi sivitas akademika PGMI dalam mendukung terselenggaranya forum akademik internasional yang mempertemukan berbagai pemikiran dan perspektif mengenai perkembangan pendidikan.Peran Ketua Prodi PGMI dalam kepanitiaan sekaligus memperlihatkan adanya keterlibatan aktif dalam jejaring akademik lintas perguruan tinggi. Hal ini juga membuka ruang bagi Prodi PGMI untuk terus membangun kolaborasi dan memperluas koneksi akademik dalam bidang pendidikan.Dengan demikian, keikutsertaan PGMI dalam OCERI Batch 4 2026 tidak hanya berada pada level peserta, tetapi juga mencakup kontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan melalui keterlibatan Ketua Prodi sebagai bagian dari panitia pelaksana.Tema yang diangkat dalam OCERI Batch 4 2026 memiliki relevansi dengan tantangan pendidikan saat ini. Perkembangan AI, deep learning, dan machine learning telah menjadi bagian dari pembahasan penting dalam transformasi pendidikan, termasuk dalam proses pembelajaran, pengembangan kompetensi pendidik, serta pemanfaatan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif.Bagi mahasiswa PGMI sebagai calon pendidik pada jenjang madrasah ibtidaiyah, pemahaman terhadap perkembangan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia pendidikan.Melalui forum seperti OCERI, mahasiswa tidak hanya mendapatkan tambahan wawasan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk melihat secara lebih luas bagaimana isu teknologi, inovasi pembelajaran, pendidikan berkelanjutan, dan pengembangan kompetensi guru dibicarakan dalam forum akademik internasional.Ketua Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Agus Riyan Oktori, M.Pd.I., menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam forum akademik menjadi salah satu bagian penting dalam memperluas pengalaman dan wawasan keilmuan mahasiswa.“Kami terus mendorong mahasiswa PGMI untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kegiatan seperti OCERI memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, mengenal perkembangan terbaru dalam dunia pendidikan, sekaligus membangun pengalaman akademik di luar lingkungan perkuliahan.”Ia juga menilai perkembangan teknologi pendidikan perlu disikapi oleh calon guru dengan wawasan yang terbuka dan tetap memperhatikan aspek pedagogis.“Perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence, merupakan bagian dari perubahan yang tidak dapat diabaikan dalam dunia pendidikan. Mahasiswa sebagai calon pendidik perlu memahami perkembangan tersebut secara kritis dan bijak, sehingga nantinya mampu memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran tanpa meninggalkan nilai-nilai pendidikan dan kebutuhan peserta didik.”Keterlibatan Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah IAIN Curup dalam OCERI Batch 4 2026 menjadi salah satu bentuk komitmen dalam memperkuat budaya akademik di lingkungan program studi.Keikutsertaan sembilan mahasiswa, ditambah keterlibatan Ketua Prodi sebagai bagian dari panitia pelaksana, menunjukkan adanya ruang kolaborasi yang dapat mempertemukan mahasiswa dan sivitas akademika dengan lingkungan akademik yang lebih luas.Prodi PGMI berharap pengalaman tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk semakin aktif dalam kegiatan ilmiah, memperluas jejaring akademik, serta meningkatkan ketertarikan terhadap penelitian dan inovasi pendidikan.Ke depan, pengalaman mengikuti dan terlibat dalam kegiatan akademik semacam ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kapasitas mahasiswa PGMI sekaligus memperkuat peran program studi dalam membangun kolaborasi akademik di bidang pendidikan.Dengan semangat “Collaborate, Innovate, Transform Education for a Better Future”, keterlibatan Prodi PGMI dalam OCERI Batch 4 2026 menjadi bagian dari langkah untuk terus membuka ruang pembelajaran, kolaborasi, dan pengembangan wawasan bagi mahasiswa serta sivitas akademika.

Materi III Pelatihan Deep Learning dan AI: Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Curup Diajak Merancang Pembelajaran Berbasis AI dan OBE
Berita Fakultas 30 Sep 2026

Materi III Pelatihan Deep Learning dan AI: Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Curup Diajak Merancang Pembelajaran Berbasis AI dan OBE

Curup, 30 September 2026 — Rangkaian Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran Fakultas Tarbiyah IAIN Curup Tahun 2026 memasuki sesi Materi III pada Rabu, 30 September 2026, pukul 08.00 WIB. Kegiatan yang berlangsung di Aula Harun Arrasyid, UPT Perpustakaan IAIN Curup tersebut mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di Era Artificial Intelligence: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam, Berintegritas, dan Berorientasi pada Penguatan Berpikir Kritis.” Sesi ini menjadi bagian penting karena peserta tidak hanya diajak memahami konsep AI, tetapi juga diarahkan untuk melihat bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan dalam perancangan pembelajaran di perguruan tinggi.Materi III disampaikan oleh Dr. Eko Risdianto, M.Pd., Dosen Universitas Bengkulu (UNIB), dengan topik “Merancang Pembelajaran Mendalam Berbasis AI dan OBE agar Mahasiswa Berpikir Kritis dan Logis.” Pada sesi ini, pembahasan diarahkan pada keterkaitan antara pemanfaatan Artificial Intelligence, pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), dan Outcome-Based Education (OBE). Ketiga aspek tersebut ditempatkan dalam kerangka perancangan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada capaian pembelajaran dan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan pengetahuan secara bermakna.Dalam pemaparannya, Dr. Eko menjelaskan bahwa pemanfaatan AI dalam pembelajaran perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pedagogis yang dirancang secara sadar. AI dapat dimanfaatkan untuk membantu dosen mengembangkan berbagai aktivitas pembelajaran, mengeksplorasi sumber belajar, menyusun variasi tugas, maupun memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap perlu diarahkan agar mahasiswa tidak sekadar memperoleh jawaban secara instan, melainkan melalui proses menganalisis, membandingkan, mengevaluasi, memberikan alasan, dan menghasilkan gagasan.Pembahasan mengenai Outcome-Based Education (OBE) kemudian menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta. Dalam pendekatan ini, rancangan pembelajaran perlu memiliki keterkaitan yang jelas antara capaian pembelajaran, aktivitas pembelajaran, serta bentuk asesmen yang digunakan. Pemanfaatan AI dengan demikian perlu diselaraskan dengan capaian yang hendak dibangun pada diri mahasiswa. Teknologi tidak menjadi tujuan akhir, melainkan salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk membantu mencapai kompetensi yang telah dirancang dalam proses pembelajaran.Dr. Eko juga mengarahkan peserta untuk melihat pentingnya merancang aktivitas pembelajaran yang mampu mendorong berpikir kritis dan logis. Mahasiswa perlu diberikan ruang untuk mempertanyakan informasi, menguji argumentasi, menemukan hubungan antarkonsep, mengidentifikasi persoalan, serta menyusun kesimpulan berdasarkan proses berpikir yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks inilah AI dapat menjadi mitra dalam proses pembelajaran, sementara dosen tetap memiliki peran penting dalam menentukan tujuan, memberikan konteks, merancang aktivitas, dan memastikan kualitas proses belajar.Penyampaian Materi III berlangsung menarik dan interaktif. Dr. Eko tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga membuka ruang dialog dengan para dosen peserta. Sejumlah peserta terlihat mengikuti pembahasan dengan serius, mencatat poin-poin penting, serta merespons berbagai pertanyaan dan ilustrasi yang diberikan selama sesi berlangsung. Interaksi tersebut membuat suasana pelatihan menjadi lebih hidup karena pembahasan tidak berhenti pada konsep, tetapi berkembang ke berbagai kemungkinan penerapannya dalam kegiatan pembelajaran di program studi masing-masing.Suasana semakin hangat ketika peserta dan pemateri terlibat dalam diskusi mengenai tantangan yang dihadapi dosen dalam mengintegrasikan teknologi AI ke dalam pembelajaran. Berbagai perspektif yang muncul menunjukkan bahwa penerapan AI membutuhkan perencanaan yang matang, terutama agar teknologi dapat memperkuat proses pembelajaran tanpa mengurangi ruang bagi mahasiswa untuk berpikir secara mandiri. Dialog antara pemateri dan peserta juga memberikan kesempatan bagi dosen untuk menghubungkan materi yang disampaikan dengan pengalaman mereka dalam melaksanakan pembelajaran di perguruan tinggi.Melalui Materi III ini, Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran Fakultas Tarbiyah IAIN Curup semakin menegaskan pentingnya kesiapan dosen dalam merespons perkembangan teknologi pendidikan. Integrasi AI dan OBE diarahkan bukan sekadar untuk menghadirkan teknologi dalam ruang kelas, tetapi untuk membangun pembelajaran yang lebih terarah pada capaian, bermakna, dan mendorong kemampuan berpikir kritis serta logis mahasiswa. Sesi yang berlangsung interaktif tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi bagi para dosen untuk terus mengembangkan desain pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap menempatkan tujuan pendidikan dan proses berpikir manusia sebagai bagian penting dari pembelajaran.شَمْسُ الرِّجَالِ الْمُحَمَّدِي

Materi II Dosen Tadris Matematika Dalami Etika dan Integritas Penggunaan AI di Perguruan Tinggi
Berita Tadris Matematika 29 Sep 2026

Materi II Dosen Tadris Matematika Dalami Etika dan Integritas Penggunaan AI di Perguruan Tinggi

Curup, 29 September 2026 — Dosen Program Studi Tadris Matematika (TMM) Fakultas Tarbiyah IAIN Curup mengikuti sesi kedua Pelatihan Deep Learning dan Artificial Intelligence (AI) yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah IAIN Curup pada Selasa, 29 September 2026, pukul 14.00 WIB. Kegiatan berlangsung di Aula Harun Arrasyid, UPT Perpustakaan IAIN Curup dengan mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di Era Artificial Intelligence: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam, Berintegritas, dan Berorientasi pada Penguatan Berpikir Kritis.”Pada sesi kedua ini, kegiatan menghadirkan Dr. Qolbi Khoiri, M.Pd.I., Dosen UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, sebagai pemateri. Ia menyampaikan materi bertajuk “Etika, Integritas Akademik, dan Batasan Penggunaan Artificial Intelligence bagi Dosen di Perguruan Tinggi.”Materi tersebut membahas pentingnya pemahaman dosen terhadap aspek etika dan integritas akademik di tengah semakin luasnya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan. AI saat ini dapat membantu berbagai aktivitas akademik, mulai dari pencarian dan pengolahan informasi hingga mendukung proses penyusunan bahan pembelajaran. Namun, pemanfaatannya tetap perlu disertai kesadaran terhadap batasan dan tanggung jawab akademik.Dalam pemaparannya, Dr. Qolbi Khoiri menekankan bahwa penggunaan AI di perguruan tinggi perlu ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir dan tanggung jawab akademik dosen maupun mahasiswa. Pemanfaatan teknologi perlu diarahkan untuk mendukung proses pembelajaran sekaligus tetap menjaga orisinalitas, kejujuran, dan integritas dalam kegiatan akademik.Pembahasan mengenai batasan penggunaan AI juga menjadi bagian penting dalam sesi ini. Dosen perlu memiliki kemampuan untuk membedakan pemanfaatan AI yang mendukung proses pembelajaran dengan penggunaan yang berpotensi mengurangi kemandirian berpikir dan mengabaikan prinsip-prinsip akademik.Suasana pemaparan Materi II berlangsung serius namun tetap interaktif. Para dosen yang mengikuti pelatihan tampak menyimak materi yang disampaikan, sementara perangkat digital seperti laptop turut digunakan selama sesi berlangsung. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai etika penggunaan AI tidak hanya bersifat konseptual, tetapi hadir di tengah realitas akademik yang sehari-hari semakin dekat dengan teknologi digital dan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan.Melalui Materi II ini, Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran Fakultas Tarbiyah IAIN Curup tidak hanya membahas apa yang dapat dilakukan oleh Artificial Intelligence, tetapi juga menempatkan pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana teknologi tersebut digunakan secara benar, bertanggung jawab, berintegritas, dan tetap berorientasi pada tujuan pendidikan. Sesi bersama Dr. Qolbi Khoiri menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapan dosen menghadapi transformasi pembelajaran berbasis AI, sehingga inovasi teknologi dapat berjalan beriringan dengan etika akademik, tanggung jawab keilmuan, dan penguatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Materi II Pelatihan Deep Learning dan AI Fakultas Tarbiyah IAIN Curup: Meneguhkan Etika dan Integritas Akademik di Era Artificial Intelligence
Berita Fakultas 29 Sep 2026

Materi II Pelatihan Deep Learning dan AI Fakultas Tarbiyah IAIN Curup: Meneguhkan Etika dan Integritas Akademik di Era Artificial Intelligence

Curup, 29 September 2026 — Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran Fakultas Tarbiyah IAIN Curup berlanjut pada Materi II yang dilaksanakan pada Selasa, 29 September 2026, pukul 14.00 WIB di Aula Harun Arrasyid, UPT Perpustakaan IAIN Curup. Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di Era Artificial Intelligence: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam, Berintegritas, dan Berorientasi pada Penguatan Berpikir Kritis” ini menghadirkan Dr. Qolbi Khoiri, M.Pd.I., Dosen UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, sebagai pemateri dengan topik “Etika, Integritas Akademik, dan Batasan Penggunaan Artificial Intelligence bagi Dosen di Perguruan Tinggi.”Memasuki sesi Materi II, perhatian para dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Curup diarahkan pada salah satu aspek penting dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan, yakni bagaimana AI dimanfaatkan secara etis dan bertanggung jawab dalam lingkungan akademik. Jika pemanfaatan teknologi hanya dilihat dari sisi kemudahan dan kecepatannya, maka kehadiran AI berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam proses pendidikan. Karena itu, pembahasan mengenai etika, integritas akademik, serta batasan penggunaan AI menjadi bagian penting dalam membangun pemanfaatan teknologi yang tetap berpijak pada nilai-nilai akademik.Dalam pemaparannya, Dr. Qolbi Khoiri, M.Pd.I. mengajak peserta untuk melihat Artificial Intelligence bukan sekadar sebagai perangkat teknologi yang mampu membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan, tetapi juga sebagai teknologi yang penggunaannya membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan pertimbangan etis. Dalam konteks perguruan tinggi, dosen perlu memahami kapan AI dapat digunakan sebagai alat bantu dan bagaimana memastikan bahwa pemanfaatannya tidak menghilangkan proses berpikir, kreativitas, tanggung jawab akademik, serta peran manusia dalam proses pembelajaran.Pembahasan kemudian diarahkan pada persoalan integritas akademik. Perkembangan AI yang mampu menghasilkan teks, merangkum informasi, menyusun gagasan, hingga membantu berbagai pekerjaan akademik menuntut sivitas akademika untuk semakin cermat dalam menjaga keaslian karya dan proses intelektual. Dalam konteks tersebut, penggunaan AI perlu ditempatkan sebagai instrumen pendukung yang membantu proses akademik, bukan sebagai pengganti kemampuan dosen maupun mahasiswa dalam membaca, menganalisis, menalar, mengevaluasi, dan menghasilkan gagasan secara mandiri.Suasana pemaparan Materi II berlangsung serius namun tetap interaktif. Para dosen yang mengikuti pelatihan tampak menyimak materi yang disampaikan, sementara perangkat digital seperti laptop turut digunakan selama sesi berlangsung. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai etika penggunaan AI tidak hanya bersifat konseptual, tetapi hadir di tengah realitas akademik yang sehari-hari semakin dekat dengan teknologi digital dan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan.Hal menarik lainnya dalam sesi ini adalah pembahasan mengenai batasan pemanfaatan AI bagi dosen di perguruan tinggi. Dosen perlu memiliki kemampuan untuk menentukan bagian-bagian pekerjaan akademik yang dapat dibantu oleh AI dan bagian-bagian yang tetap membutuhkan penilaian, pengalaman, kreativitas, serta tanggung jawab manusia. Dengan demikian, pemanfaatan AI tidak diarahkan untuk menggantikan peran dosen, melainkan mendukung dosen dalam menjalankan tugas akademik secara lebih efektif dengan tetap mempertahankan kualitas dan integritas proses pendidikan.Materi yang disampaikan juga menjadi pengingat bahwa transformasi digital di perguruan tinggi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter akademik dan kemampuan berpikir kritis. Kehadiran AI seharusnya tidak membuat proses pembelajaran menjadi sekadar aktivitas menerima hasil yang dihasilkan mesin. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan untuk membuka ruang eksplorasi, memperkaya sumber belajar, memunculkan pertanyaan baru, serta membantu dosen dan mahasiswa melakukan analisis dan refleksi yang lebih mendalam.Melalui Materi II ini, Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran Fakultas Tarbiyah IAIN Curup tidak hanya membahas apa yang dapat dilakukan oleh Artificial Intelligence, tetapi juga menempatkan pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana teknologi tersebut digunakan secara benar, bertanggung jawab, berintegritas, dan tetap berorientasi pada tujuan pendidikan. Sesi bersama Dr. Qolbi Khoiri menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapan dosen menghadapi transformasi pembelajaran berbasis AI, sehingga inovasi teknologi dapat berjalan beriringan dengan etika akademik, tanggung jawab keilmuan, dan penguatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.شَمْسُ الرِّجَالِ الْمُحَمَّدِي

Dosen Tadris Matematika Ikuti Pelatihan Deep Learning dan AI, Perkuat Inovasi Pembelajaran di Era Digital
Berita Tadris Matematika 29 Sep 2026

Dosen Tadris Matematika Ikuti Pelatihan Deep Learning dan AI, Perkuat Inovasi Pembelajaran di Era Digital

Curup, 29 September 2026 — Dosen Program Studi Tadris Matematika (TMM) Fakultas Tarbiyah IAIN Curup mengikuti kegiatan Pelatihan Deep Learning dan Artificial Intelligence (AI) yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah IAIN Curup pada Selasa, 29 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dosen dalam mengembangkan pembelajaran yang adaptif, bermakna, dan relevan dengan perkembangan teknologi pendidikan.Kegiatan pelatihan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I IAIN Curup, Dr. Eka Apriani, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dosen dalam menghadapi perkembangan teknologi dan transformasi pembelajaran di perguruan tinggi. Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, perlu diiringi dengan pemahaman pedagogis agar penggunaannya mampu memberikan dampak positif terhadap kualitas proses dan hasil pembelajaran.Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Curup, Dr. Bakti Komalasari, M.Pd.I. Ia menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital dan AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu, dosen perlu terus meningkatkan kemampuan agar dapat memanfaatkan teknologi secara tepat dalam mendukung proses pembelajaran.“Dosen tidak hanya dituntut untuk memahami perkembangan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna,” ujar Dr. Bakti Komalasari.Memasuki sesi materi, pelatihan menghadirkan Dr. Muzanif, M.Pd., dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Bengkulu sebagai pemateri pertama. Ia menyampaikan materi bertajuk “Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Perguruan Tinggi: Dari Transfer Pengetahuan Menuju Pembelajaran Bermakna.”Dalam pemaparannya, Dr. Muzanif menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam tidak sekadar berkaitan dengan penggunaan teknologi atau AI dalam kegiatan pembelajaran. Konsep tersebut lebih menekankan bagaimana proses pembelajaran mampu membawa mahasiswa untuk memahami materi secara lebih mendalam, menghubungkan pengetahuan dengan konteks nyata, serta membangun kemampuan berpikir kritis dan reflektif.Pendekatan pembelajaran mendalam mendorong perubahan paradigma dari pembelajaran yang berorientasi pada transfer pengetahuan menuju proses belajar yang memungkinkan mahasiswa aktif membangun pemahaman, mengaitkan konsep dengan permasalahan nyata, serta menghasilkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.Bagi dosen Tadris Matematika, materi tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan pembelajaran matematika di perguruan tinggi. Integrasi pendekatan deep learning dan AI dapat membuka ruang bagi pengembangan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual, interaktif, dan berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi mahasiswa.Keikutsertaan dosen TMM dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan dan keterampilan dalam merancang pembelajaran berbasis teknologi, sekaligus mendorong lahirnya inovasi pembelajaran matematika yang sesuai dengan tuntutan pendidikan di era digital.