Mendengar Bisik Pesisir di Panggung Teater: Kala Tradisi Bengkulu Menautkan Jiwa Akademisi dan Seniman
TBIN, IAINCurup_ Ketua Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIn) IAIN Curup Dr. Agita Misriani, M.Pd menghadiri undangan pergelaran Konser Musik Etnik Bengkulu yang berlangsung megah di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Bengkulu pada Sabtu (10/10/2026) malam pukul 20.00 WIB.
Pertunjukan seni bertajuk SEBUMI – MELANTIKA PESISIR “Secupak Bunyi, Selaut Raso” tersebut digagas oleh Yayasan Svara Bumei Bengkulu. Konser ini menyuguhkan sebuah eksplorasi karya bertema SEBUMI yang secara apik merangkai alunan bunyi, tradisi lokal, serta narasi kehidupan masyarakat pesisir Bengkulu ke dalam panggung seni pertunjukan etnik.
Acara bergengsi ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat daerah, akademisi, dan praktisi seni. Tampak hadir di antaranya Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Kepala Taman Budaya Bengkulu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Bengkulu, serta Kepala Stasiun RRI Bengkulu. Kehadiran Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Universitas Bengkulu (UNIB) bersama para tokoh budaya dan seniman Bengkulu semakin menambah bobot apresiasi terhadap karya seni tradisi ini.
Ketua Program Studi TBIn IAIN Curup menyampaikan rasa antusias dan apresiasinya yang mendalam saat menyaksikan pertunjukan seni yang kaya akan nilai tradisi tersebut.
"Konser ini bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan sebuah mahakarya yang berhasil mengawinkan sastra lisan, tradisi pesisir, dan bunyi-bunyian etnik Bengkulu secara sangat intuitif dan bernyawa. Kami sangat terpukau melihat bagaimana kearifan lokal mampu dikemas dengan begitu indah dan menyentuh jiwa," ungkap Kaprodi TBIn IAIN Curup.
Kehadiran serta keterlibatan Prodi TBIn IAIN Curup dalam helatan budaya ini membawa manfaat strategis bagi perkembangan akademis program studi. Kegiatan ini menjadi ajang penguatan jejaring (networking) dengan para tokoh kebudayaan, praktisi seni, serta instansi pemerintah. Selain itu, eksplorasi seni tradisi pesisir ini dapat menjadi sumber inspirasi pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal—khususnya pada mata kuliah analisis sastra, etnografi, dan seni pertunjukan—sekaligus membuka peluang kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat di bidang kebahasaan dan kebudayaan Bengkulu.