Menu
Berita Fakultas

Materi II Pelatihan Deep Learning dan AI Fakultas Tarbiyah IAIN Curup: Meneguhkan Etika dan Integritas Akademik di Era Artificial Intelligence

29 September 2026
Estimasi waktu baca: 3 menit
33 kali dilihat
Materi II Pelatihan Deep Learning dan AI Fakultas Tarbiyah IAIN Curup: Meneguhkan Etika dan Integritas Akademik di Era Artificial Intelligence

Curup, 29 September 2026 — Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran Fakultas Tarbiyah IAIN Curup berlanjut pada Materi II yang dilaksanakan pada Selasa, 29 September 2026, pukul 14.00 WIB di Aula Harun Arrasyid, UPT Perpustakaan IAIN Curup. Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di Era Artificial Intelligence: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam, Berintegritas, dan Berorientasi pada Penguatan Berpikir Kritis” ini menghadirkan Dr. Qolbi Khoiri, M.Pd.I., Dosen UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, sebagai pemateri dengan topik “Etika, Integritas Akademik, dan Batasan Penggunaan Artificial Intelligence bagi Dosen di Perguruan Tinggi.”

Memasuki sesi Materi II, perhatian para dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Curup diarahkan pada salah satu aspek penting dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan, yakni bagaimana AI dimanfaatkan secara etis dan bertanggung jawab dalam lingkungan akademik. Jika pemanfaatan teknologi hanya dilihat dari sisi kemudahan dan kecepatannya, maka kehadiran AI berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam proses pendidikan. Karena itu, pembahasan mengenai etika, integritas akademik, serta batasan penggunaan AI menjadi bagian penting dalam membangun pemanfaatan teknologi yang tetap berpijak pada nilai-nilai akademik.

Dalam pemaparannya, Dr. Qolbi Khoiri, M.Pd.I. mengajak peserta untuk melihat Artificial Intelligence bukan sekadar sebagai perangkat teknologi yang mampu membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan, tetapi juga sebagai teknologi yang penggunaannya membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan pertimbangan etis. Dalam konteks perguruan tinggi, dosen perlu memahami kapan AI dapat digunakan sebagai alat bantu dan bagaimana memastikan bahwa pemanfaatannya tidak menghilangkan proses berpikir, kreativitas, tanggung jawab akademik, serta peran manusia dalam proses pembelajaran.

Pembahasan kemudian diarahkan pada persoalan integritas akademik. Perkembangan AI yang mampu menghasilkan teks, merangkum informasi, menyusun gagasan, hingga membantu berbagai pekerjaan akademik menuntut sivitas akademika untuk semakin cermat dalam menjaga keaslian karya dan proses intelektual. Dalam konteks tersebut, penggunaan AI perlu ditempatkan sebagai instrumen pendukung yang membantu proses akademik, bukan sebagai pengganti kemampuan dosen maupun mahasiswa dalam membaca, menganalisis, menalar, mengevaluasi, dan menghasilkan gagasan secara mandiri.

Suasana pemaparan Materi II berlangsung serius namun tetap interaktif. Para dosen yang mengikuti pelatihan tampak menyimak materi yang disampaikan, sementara perangkat digital seperti laptop turut digunakan selama sesi berlangsung. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai etika penggunaan AI tidak hanya bersifat konseptual, tetapi hadir di tengah realitas akademik yang sehari-hari semakin dekat dengan teknologi digital dan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan.

Hal menarik lainnya dalam sesi ini adalah pembahasan mengenai batasan pemanfaatan AI bagi dosen di perguruan tinggi. Dosen perlu memiliki kemampuan untuk menentukan bagian-bagian pekerjaan akademik yang dapat dibantu oleh AI dan bagian-bagian yang tetap membutuhkan penilaian, pengalaman, kreativitas, serta tanggung jawab manusia. Dengan demikian, pemanfaatan AI tidak diarahkan untuk menggantikan peran dosen, melainkan mendukung dosen dalam menjalankan tugas akademik secara lebih efektif dengan tetap mempertahankan kualitas dan integritas proses pendidikan.

Materi yang disampaikan juga menjadi pengingat bahwa transformasi digital di perguruan tinggi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter akademik dan kemampuan berpikir kritis. Kehadiran AI seharusnya tidak membuat proses pembelajaran menjadi sekadar aktivitas menerima hasil yang dihasilkan mesin. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan untuk membuka ruang eksplorasi, memperkaya sumber belajar, memunculkan pertanyaan baru, serta membantu dosen dan mahasiswa melakukan analisis dan refleksi yang lebih mendalam.

Melalui Materi II ini, Pelatihan Deep Learning dan AI dalam Pembelajaran Fakultas Tarbiyah IAIN Curup tidak hanya membahas apa yang dapat dilakukan oleh Artificial Intelligence, tetapi juga menempatkan pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana teknologi tersebut digunakan secara benar, bertanggung jawab, berintegritas, dan tetap berorientasi pada tujuan pendidikan. Sesi bersama Dr. Qolbi Khoiri menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapan dosen menghadapi transformasi pembelajaran berbasis AI, sehingga inovasi teknologi dapat berjalan beriringan dengan etika akademik, tanggung jawab keilmuan, dan penguatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

شَمْسُ الرِّجَالِ الْمُحَمَّدِي

Bagikan Artikel Ini

Kembali ke Daftar Berita